"Manusia berusaha, Tuhan yang menentukan"
Semalam aku duduk menyendiri di halaman kosong belakang rumah sambil merokok dan menyeruput kopi nescafe cream kesukaanku. Bunyi jangkrik menemani kesendirian saat anak dan istriku sudah terlelap di kamar tidur. Temaram sinar keperakan bulan setengah sabit menerangi rumput jepang yang baru aku tanam 2 minggu lalu.
Yah.. rumah mungil ini adalah "dream 2008” yang aku canangkan akhir tahun 2007 selain dreamku yang lain yaitu punya usaha. Mimpi punya rumah ini sudah ada sejak lama, setidaknya sejak aku menikah 2004 dan baru terwujud Februari 2008
Terlalu lamakah? Tidak juga... Justru inilah saat yang tepat!! Tepat untuk menjalani ujian.
Semenjak gonjang ganjing perusahaan tempat aku bekerja pertengahan 2007, aku berpikir untuk segera memulai usaha. Setelah beberapa kali pembicaraan dengan teman, akhirnya kami memulai usaha membuat mainan edukatif anak. Dan dengan modal beberapa alat kerja, usaha pun dimulai dengan membuat sample produk kemudian di upload di web. Sayangnya usaha ini kemudian berhenti karena modal yang tidak memadai dan tidak ada yang mengoperasikan.
Akhir 2007, tekad untuk punya rumah dan usaha semakin menggebu. Dengan perhitungan bahwa aku dan istriku masih kerja, maka akhirnya aku beranikan untuk mengajukan kredit ke bank. Dan akhirnya akhir Februari akad kredit sebuah rumah sederhana yang aku idam2kan selama ini.
Rumah ini sebenarnya adalah rumah yang sedang direnovasi oleh pemilik untuk anaknya. Akan tetapi, nggak tahu ceritanya, pembangunan dihentikan oleh pemilik dan kemudian dijual rugi. Sebenarnya tanggung, tapi biarlah... Biar nanti aku perbaiki pelan-pelan sambil jalan.
April 2008, rumah mungil itu akhirnya aku tempati setelah beberapa renovasi untuk dapur dan kamar mandi. Sedangkan lantainya cukup dengan karpet plastik karena dana sudah tidak mencukupi beli keramik.
Minggu pertama kami jalani masih tetap dengan rutinitas seperti biasa. Pagi berangkat menitipkan anak ke rumah mertua sekaligus mengantar istri kerja baru kemudian meluncur ke tempat kerjaku. Pulang sorenya, menjemput anak dan istri di rumah mertua baru pulang ke rumah.
Kami jalani semuanya dengan senang hati sampai kemudian memasuki minggu ke dua, istriku bilang kalau pabrik tempat kerjanya tutup. Halah… sepertinya baru kemarin kami hitung2an budget untuk nyicil rumah, keperluan sehari2 dan nglunasi hutang ke saudara. Dengan 2 sumber penghasilan kami, sebenarnya sudah sangat ngepress untuk 1 tahun ke depan. Tapi, kalo istri sudah nggak kerja lagi, maka hitung2 itu meleset jauh.
Aku sempat “panic”. Tapi akhirnya tersadar, bahwa ini adalah ujian bagi kami. Pasti ada hikmah di dalamnya.
Dalam kondisi seperti itu, akhirnya kami sepakat untuk membagi tugas. Istri tetap di rumah menjaga anak, sedangkan aku yang kerja sambil mencari peluang usaha untuk kegiatan istri di rumah.
Dan akhirnya, jalan keluar itu ditunjukkan Allah… Selagi kami mencari peluang usaha, aku ingat dengan beberapa milist yang aku ikuti yang bisa dicoba untuk memulai usaha. Apa saja itu??
Bersambung….
Sabtu, 17 Mei 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar